Apa Itu Waktu? Menurut Ilmu Pengetahuan Fisikawan dan Filsuf

Apa Itu Waktu? Menurut Ilmu Pengetahuan, Fisikawan dan Filsuf
Pernah nggak sih kalian para pencinta Bang Rey yang budiman ini kepikiran tentang apa itu waktu?. Kalau dijelaskan secara sederhana sih, waktu adalah besaran yang digunakan untuk mengukur durasi suatu peristiwa serta jarak antara satu kejadian dengan kejadian lainnya.
Nah, di artikel kali ini Bang Rey yang Ganteng dan calon pemimpin 9 Naga ini bakal ngajak kalian untuk mempelajari tentang apa itu waktu dari berbagai sudut pandang, “Pandangan pertama, awal aku berjumpa, Assekk!!“, wkwkwk. Nah, Tanpa basa-basi lagi, ambil posisi rebahan, kencangkan sarung kalian daan..
Apa Itu Waktu Menurut Para Ilmuwan Fisika
Jujurly muuales bingit ges aku nulis artikel ni, tapi ya udahlah!!. Para fisikawan sejak berabad-abad yang lalu telah mencoba untuk memahami sebenarnya apa itu waktu. Faktanya, “fakta lo ini!!“, setiap zaman melahirkan pandangan yang berbeda, begitu juga saat pertamakali nya aku memandang diri mu Wahai para pecinta batu nisan, “wkwkwkwkwk“.
1. Menurut Isaac Newton
Menurut Isaac Newton, waktu adalah sesuatu yang bersifat mutlak, sejati, dan matematis. Dalam karya monumentalnya yang berjudul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, Newton menjelaskan bahwa waktu mengalir secara konstan dan seragam di seluruh alam semesta tanpa dipengaruhi oleh apa pun.
Artinya, satu detik di Bumi akan sama persis dengan satu detik di ujung galaksi lain. Bagi Newton, waktu berjalan sendiri seperti sebuah jam kosmis raksasa yang terus berdetak dengan kecepatan yang sama di mana pun tempatnya dan sampai kapan pun.
Newton juga membedakan antara waktu mutlak dan waktu relatif. Waktu relatif adalah waktu yang biasa kita ukur menggunakan jam atau kalender dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan waktu mutlak adalah waktu universal yang tidak terlihat, yang menjadi tempat berlangsungnya seluruh peristiwa di alam semesta.
“Lalu bagaimana dengan kita? iya kita!! kapan kita punya waktu bersama? apakah kita akan selamanya? atau waktu hanya sekedar menunda kapan rasa sakit itu tiba?“
2. Menurut Albert Einstein
Jika Newton menganggap waktu bersifat mutlak, Albert Einstein justru berpendapat sebaliknya, menurut Einstein, waktu bersifat relatif. Melalui Teori Relativitas Khusus yang ia perkenalkan pada tahun 1905, Einstein menunjukkan bahwa aliran waktu dapat berbeda tergantung pada kecepatan gerak suatu benda dan posisi pengamatnya.
Semakin mendekati kecepatan cahaya, waktu akan berjalan semakin lambat. Fenomena ini dikenal sebagai dilatasi waktu atau time dilation, Artinya, tidak ada satu waktu universal yang berlaku sama bagi semua orang di alam semesta.
Seperti halnya ketika waktu aku mencintaimu, engkau malah mencintainya, sedangkan ketika aku mulai berdamai dengan luka itu, malah kamu mulai menyayangi ku, Dasar aneh!!
Kemudian pada tahun 1915, melalui Teori Relativitas Umum, Einstein memperkenalkan konsep ruang-waktu (spacetime). Dalam teori ini, ruang dan waktu tidak lagi dipandang sebagai dua hal yang terpisah, melainkan sebagai satu kesatuan. Ia juga menemukan bahwa gravitasi dapat memengaruhi aliran waktu. Semakin kuat gravitasi di suatu tempat, maka waktu akan berjalan semakin lambat.
Jadi menurut Einstein, waktu adalah sesuatu yang dinamis dan dapat berubah tergantung pada kondisi di sekitarnya.
“yah, ini sangat masuk akal, jika waktu saja bersifat dinamis dan dapat berubah, lalu apakah aku masih tetap bisa percaya bahwa kamu tidak akan berubah? aku takut kehilangan mu, tapi aku tidak tahu apakah kamu akan tetap memilih ku, eeemmhh sedih banget!!! Huwahahaha”
3. Menurut Stephen Hawking
Menurut Stephen Hawking, waktu adalah sesuatu yang memiliki awal dan kemungkinan juga memiliki akhir. Bersama Roger Penrose, Hawking menunjukkan bahwa ruang dan waktu bermula dari sebuah singularitas yang menjadi awal dari peristiwa Big Bang sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu.
“Biar ku tebak, Kelen pasti nggak tahu kan apa itu singularitas?? Bilang Bang Rey Cakep dulu nanti aku kasih sayang.. Eaaaa!!! wkwkwk”. Singularitas adalah suatu titik di mana seluruh alam semesta dimampatkan menjadi ruang yang sangat kecil, dengan kepadatan tak terbatas dan kelengkungan ruang-waktu yang ekstrem, sehingga semua hukum fisika runtuh dan waktu itu sendiri berhenti.
Pakde Hawking juga pernah bilang bahwa bertanya tentang “apa yang terjadi sebelum Big Bang” sama seperti halnya bertanya “apa yang ada di sebelah utara Kutub Utara”, “Maknanya seperti apa? ya pikiren dewe.!! Tugas ku hanya menulis bukan memahami wkwkwk”
Selain itu, Hawking juga terkenal dengan konsep Anak Panah Waktu (Arrow of Time). Dalam bukunya A Brief History of Time, ia menjelaskan bahwa waktu selalu bergerak maju menuju masa depan. Ia membaginya menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Anak panah termodinamika, yaitu kecenderungan alam semesta bergerak dari keteraturan menuju ketidakteraturan.
2. Anak panah psikologis, yaitu kemampuan manusia mengingat masa lalu tetapi tidak masa depan.
3. Anak panah kosmologis, yaitu waktu yang terus bergerak maju seiring mengembangnya alam semesta.
Bicara soal anak panah!! Kalau kita punya anak nanti, kalau mirip aku, resikonya ganteng dan cantik, tapi nanti kalau mirip kamu, mau makan apa? Nggak tahu!! Seblak?? aku nggak mau seblak!! la maunya apa?? nggak tahuu.!! wkwkwkw. “wes kebayang nek utek ku”
Kesimpulannya adalah , waktu bukanlah wadah kosong yang diam, melainkan bagian aktif dari alam semesta yang terus berkembang, begitu kira-kira.
Definisi Waktu Menurut Para Filsuf
Kalau tadi kita melihat waktu dari sudut pandang para fisikawan, sekarang kita lihat bagaimana para filsuf memahaminya. Seruput kopinya dulu gaes!! Sruuupttttt Akhhhhhhhkkk!!! hehe.. oke? lanjut!!
1. Menurut Aristoteles
Menurut Aristoteles, waktu tidak dapat dipisahkan dari perubahan dan gerakan. Dalam karyanya yang berjudul Physics, ia mendefinisikan waktu sebagai ukuran dari gerakan berdasarkan sebelum dan sesudah. Bagi Aristoteles, jika tidak ada perubahan yang terjadi di alam semesta, maka waktu juga tidak ada.
Kita hanya bisa menyadari keberadaan waktu karena melihat adanya perubahan. Mulai dari matahari yang bergerak, tanaman yang tumbuh, hingga perubahan pikiran yang terjadi dalam diri manusia.
Aristoteles juga berpendapat bahwa waktu membutuhkan pikiran manusia untuk bisa dihitung dan dipahami. Karena waktu pada dasarnya adalah ukuran atas perubahan, maka harus ada kesadaran untuk melakukan proses pengukuran tersebut.
Apakah ketika aku mencintai mu, aku dalam keadaan sadar, ataukah ketika aku mencintai mu, malah justru aku kurang sadar? sadar diri misalnya!! Huwa ha ha ha ha…
2. Menurut Saint Augustine
Bagi Saint Augustine, waktu adalah misteri yang sangat sulit dijelaskan. Dalam bukunya Confessions, ia berkata: “Jika tidak ada yang bertanya kepadaku, aku tahu apa itu waktu. Tetapi jika aku ingin menjelaskannya kepada orang yang bertanya, aku tidak tahu.”
“Emmmmh, Begitu rumit, cowok emang selalu begitu, rumit dan nggak jelas!!” wkwkwkw.
Menurut Augustine, waktu tidak berada di luar manusia, melainkan berada di dalam kesadaran manusia. Ia berpendapat bahwa masa lalu sebenarnya sudah tidak ada, masa depan juga belum ada, sedangkan masa kini hanya berlangsung sesaat sebelum berubah menjadi masa lalu.
Karena itu, Augustine menyimpulkan bahwa waktu hidup di dalam jiwa manusia melalui tiga bentuk:
1. Masa sekarang dari masa lalu, yaitu ingatan.
2. Masa sekarang dari masa sekarang, yaitu perhatian.
3. Masa sekarang dari masa depan, yaitu harapan.
“Jujurly, Ini kelas banget!! Mari kita teriak Kelllllasssssss!!!”
3. Menurut Immanuel Kant
Menurut Immanuel Kant, waktu bukanlah benda, zat, ataupun sesuatu yang berada di luar manusia. Dalam bukunya Critique of Pure Reason, Kant menjelaskan bahwa waktu adalah bentuk intuisi murni yang sudah ada dalam pikiran manusia sebelum pengalaman apa pun terjadi.
Sederhananya, waktu adalah “kacamata bawaan” yang digunakan manusia untuk memahami dunia.
Tanpa konsep waktu, semua pengalaman yang kita terima hanya akan menjadi kumpulan informasi yang acak dan tidak memiliki urutan. Karena itulah Kant berpendapat bahwa waktu tidak benar-benar eksis sebagai objek yang berdiri sendiri, tetapi tetap nyata dalam setiap pengalaman manusia.
“Seperti halnya, sejatinya kamu tidak pernah benar-benar aku miliki, tapi kehilanganmu, itu rasanya sakit sekali” sekali, tidak duwa kali #JokesBapakBapak wkwkwkwk!!
Apa Itu Waktu? Menurut Reza Al Barik Al Cakepi Wal Gantengi Al Baleturiyi
Kalau menurutku pribadi sebagai orang sangar dan berkelas, waktu bukanlah sesuatu yang bergerak. Justru kitalah yang bergerak melewati waktu.
Logikanya begini, Waktu adalah setiap versi dari diri kita sendiri, Anak kecil yang dulu pernah hidup dalam tubuh kita kini sudah hilang, remaja yang pernah memiliki mimpi juga telah pergi dan setiap detik yang berlalu melahirkan versi diri kita yang baru.
Bagiku:
Waktu adalah jejak yang tak terlihat sekaligus objek yang ditinggalkan oleh setiap perubahan yang terjadi, artinya, waktu adalah bukti bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar bisa kita miliki secara mutlak.
Kita tidak bisa menyentuh waktu, tidak bisa menghentikannya, tidak bisa mempercepatnya dan tidak bisa mengulangnya, namun anehnya, seluruh kehidupan tunduk kepadanya. “Kellasss” wkwkwkwk.
Yang lebih menarik lagi, masa lalu hanya hidup dalam ingatan, masa depan hanya hidup dalam imajinasi, sedangkan masa kini berubah menjadi masa lalu bahkan sebelum kita sempat memahaminya. Kalau dipikir lebih jauh, waktu bukanlah sesuatu yang sedang kita jalani, malah justru waktulah yang sedang menjalani kita.
Maksud ku!! Kita lahir di dalamnya, hidup bersamanya, lalu menghilang darinya tanpa pernah benar-benar mengetahui sebenarnya apa itu waktu?. Asseek!! Quotes bai Reza Al Barik
Udah dulu ges!! Capek!! Mau ngops duls ma Pakde sin jing ping. Matur Tengkyu!!

Tak Tules Dewe, Tak Woco Dewe, Tak Komen Dewe!! Huwahahaha