Mengapa Kita Sulit Berubah Meski Tahu Apa yang Terbaik?
Mengapa Kita Sulit Berubah Meski Tahu Apa yang Terbaik?
Hari ini Bang Rey Sang Pemimpin Tertinggi 9 Naga ini kepikiran tentang Mengapa Kita Sulit Berubah? Padahal, kita tahu bahwa perubahan itu membawa dampak positif pada hidup kita sendiri. Apakah di antara kalian ada juga yang pernah memiliki pikiran yang sama dengan Bang Rey?
Menurutku, kemungkinan mayoritas orang pernah mengalami situasi ini. Misalnya, kita tahu bahwa olahraga itu baik untuk kesehatan tubuh, atau menabung, misalnya, lebih baik daripada membeli barang yang tidak diperlukan. Tapi aneh, Bang Rey sendiri, meski sudah paham, tetap ae mengulangi kebiasaan itu. Kalau kalian gimana, guys?
Penyebab Kita Sulit Berubah, Mengetahui Tidak Berarti Bertindak
Setelah Bang Rey searching di Google dan tanya ke beberapa AI, ternyata fenomena ini bukan berarti kita malas atau tidak memiliki kemauan untuk berubah secara mutlak.
Dalam psikologi, perubahan perilaku adalah proses yang jauh lebih kompleks daripada sekadar mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Otak, emosi, dan lingkungan sekitar memiliki peran besar dalam menentukan apakah kita akan mampu untuk berubah atau tetap bertahan pada kebiasaan lama.
Berikut ini adalah beberapa jawaban yang berhasil Bang Rey dapatkan. Ingat, guys, ini bukan saran profesional, dan ini hanya sekadar catatan kecil dari Bang Rey.
1. Otak Lebih Menyukai Kebiasaan daripada Perubahan
Katanya, otak manusia memang dirancang untuk menggunakan energi sehemat mungkin. Oleh karena itu, kebiasaan yang dilakukan berulang kali akan menjadi otomatis. Kita tidak perlu mikir lagi, guys.
Jadi, ketika kita ingin mengubah kebiasaan lama tersebut, otak justru menganggapnya sebagai sesuatu yang membutuhkan energi lebih besar. Dan inilah alasan mengapa kebiasaan buruk lebih mudah untuk dilakukan jika dibandingkan dengan membangun kebiasaan baru yang lebih baik.
2. Zona Nyaman Terasa Lebih Aman
Perubahan membawa ketidakpastian. Meskipun kondisi saat ini kurang ideal, otak akan tetap menganggapnya lebih aman karena sudah dikenal. Akibatnya, kita akan lebih memilih bertahan dalam zona nyaman meskipun salah daripada menghadapi risiko gagal saat mencoba suatu hal yang baru.
“Jadi kebiasaan itu memang ngaruh banget, guys. Nyesel banget kalau kita terbiasa untuk melakukan hal-hal yang buruk. Susah ngubahnya.”
3. Emosi Lebih Kuat daripada Logika
Manusia tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan logika. Kayak cewek, misalnya, emosi mulu. Sebagai contoh, sebenarnya perempuan itu tahu kalau makan secara berlebihan itu tidak baik bagi kesehatan. Bisa obesitas, bisa bikin beli baju lagi. Giliran dibilang gendut marah, disuruh diet susah. Kan aneh, yak! Dia lebih memilih kenyamanan sesaat daripada kenikmatan selamanya hanya gara-gara pengen makan seblak.
4. Perubahan Terlihat Berat karena Fokus pada Hasil Besar
Nah, ini sih yang Bang Rey alami, ingin melihat hasil dengan cepat. Ketika perubahan yang diharapkan tidak terlihat, semangat mulai menurun dan akhirnya bodo amat. Padahal, teorinya kan gini, yak. Perubahan besar berasal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Tapi ya gimana, kelamaan!
5. Lingkungan Ikut Membentuk Perilaku
Perilaku kita tidak hanya dipengaruhi oleh diri sendiri, tetapi juga oleh lingkungan sekitar. Teman, keluarga, tempat kerja, hingga media sosial dapat memperkuat atau justru melemahkan kebiasaan yang ingin dibangun. Karena itu, terkadang mengubah lingkungan lebih efektif daripada hanya sekedar mengandalkan niat.

Bagaimana Cara Membuat Perubahan Menjadi Lebih Mudah?
Berhubung Bang Rey malas nulis banyak-banyak, Bang Rey langsung saja menuju solusinya seperti apa, bagaimana, dan seperti apa. Tapi ya itu, cuma 5.
1. Mulailah dari Langkah yang Sangat Kecil
Intinya, mulailah dengan perubahan yang paling mudah. Contoh, tidur lebih awal, bangun pas adzan subuh, terus sholat. Jangan malah tidur lagi terus nggak sholat subuh.
Syukur-syukur sholat qobliyah subuh 2 rokaat, karena apa? Karena sholat sunnah 2 rakaat sebelum subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya.
2. Ubah Identitas, Bukan Hanya Target
Daripada hanya berkata, “Saya tidak akan menyerah,” lebih baik cobalah untuk membangun identitas baru dengan berpikir, “Saya akan melakukan setiap hal pada hari ini dengan segenap kemampuan terbaik saya.” Ya, intinya adalah pola pikir akan membentuk siapa kita. Pewaris Harta Mertua!
3. Bangun Lingkungan yang Mendukung
Jika ingin mengurangi penggunaan ponsel, letakkan ponsel jauh dari tempat belajar. Jika ingin lebih sering membaca, simpan buku di tempat yang mudah dijangkau. Ingin berhenti mabuk-mabukan, ya jangan nongkrong bareng sama pemabuk, gitu. Ibarat kata nih ya, kalau kamu dekat penjual parfum maka kamu akan dapat wanginya. Jika kamu dekat kambing maka kamu akan ikut bau prengusnya.
4. Jangan Menunggu Mood
Suasana hati itu berubah-ubah. Ada hari di mana kita semangat, ada juga hari di mana kita tidak ingin melakukan apa pun. Ingat, guys, orang yang berhasil berubah biasanya memaksa diri untuk tetap bertindak meskipun mereka sedang bad mood. Ada doanya, yaitu: Ya Muqollibal Quluub, Tsabbit Qolbi ‘Alaa Diinik.
5. Terima Bahwa Perubahan adalah Proses yang Panjang
Tidak ada perubahan yang terjadi dalam semalam, karena pasti akan ada hari di mana kita gagal menjalankan kebiasaan baru itu. Yang terpenting adalah kita tidak perlu menjadi sempurna. Kita hanya perlu memaksakan diri untuk konsisten agar kita dapat berhasil dalam mencapai keinginan itu.
Cukup sekian dulu, guys. Bang Rey mau tidur dulu, udah jam 03.29. Matur tengkyu, and see you next article.
Baca Juga : Bagaimana Jati Diri Terbentuk oleh Lingkungan dan Kebiasaan?
Disclaimer: Artikel ini hanya sebatas pengetahuan umum yang Bang Rey dapatkan, dan ini tidak dapat menggantikan saran konsultan profesional.

