Bagaimana Jati Diri Terbentuk oleh Lingkungan dan Kebiasaan?

Bagaimana Jati Diri Terbentuk oleh Lingkungan dan Kebiasaan?
Sore ini sambil ngopi di warkop Bang Rey Sang Petinggi Para Kasta Kaum Elit ini lagi kepikiran dan penasaran tentang Bagaimana Jati Diri Terbentuk. Soalnya, kalau dipikir-pikir, kok ada ya orang yang dari kecil sudah ganteng, baik hati, dan tidak sombong kayak aku, tapi ada juga orang yang sudah jelek, gampang marah, toxic lagi kayak kamu.
Setelah aku membaca beberapa artikel psikologi, searching di Google, dan ngobrol sama AI, akhirnya aku mulai paham bahwa bagaimana jati diri terbentuk. Ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja, sebagian ahli psikologi berpendapat bahwa lingkungan, pengalaman hidup, dan kebiasaan sehari-hari merupakan beberapa faktor terbesar yang dapat memengaruhi dan membentuk siapa diri kita hari ini.
Apa Itu Jati Diri dan Bagaimana Jati Diri Terbentuk?
Jati diri adalah cara kita memandang diri sendiri yang di dalamnya terdapat sebuah nilai, keyakinan, kebiasaan, cara berpikir, dan bagaimana sikap kita dalam mengambil keputusan untuk kehidupan sehari-hari. Simpelnya, jati diri adalah jawaban dari pertanyaan, “Siapa aku?” Itu dia!.
Menurutku, jati diri itu ibarat “kompas” dalam hidup. Ketika kita dihadapkan pada pilihan yang sulit, jati diri akan memengaruhi bagaimana cara kita bersikap, menentukan prioritas, dan memperlakukan orang lain. Karena itu, memahami jati diri bukan hanya soal mengenal diri sendiri, tetapi juga memahami alasan di balik setiap tindakan yang kita lakukan.
Bagaimana Jati Diri Terbentuk dari Lingkungan?
1. Keluarga Menjadi Sekolah Pertama
Dari kecil, kecil sekali, sekecil bocil, kita sudah belajar dari orang tua dan keluarga. Cara mereka berbicara, cara mereka menyelesaikan masalah, bahkan cara mereka memperlakukan orang lain secara tidak langsung dapat memengaruhi karakter dan akhlak kita.
Kalau dari kecil kita sudah terbiasa melihat orang tua yang saling menghargai, sopan, soft spoken, religius, jadi anaknya ya kayak Bang Rey ini, begitu pun sebaliknya. Makanya kalau punya anak beri contoh yang baik-baik, jangan toxic, biar anakmu kalau sudah besar nggak jadi beban masyarakat, jadi koruptor misalnya.
2. Lingkungan Pertemanan
Semakin bertambah usia, pengaruh teman menjadi menjadi-jadi, bener nggak?. Misalnya nih, kalau kita sering nongkrong dengan orang-orang yang rajin ngaji, lama-lama kemungkinan besar kita juga akan ikut ngaji, Waktunya salat ya salat. Tapi kalau setiap hari kita nongkrong sama orang yang nggak jelas, apalagi susah diajak berkembang, ya kemungkinan besar kita juga akan ikut terbawa. Ibarat kata ni ye, berteman dengan penjual parfum bisa ikut harum, sedangkan berteman dengan penjudi, ya kalian tahu sendirilah, banyak kok contohnya.
3. Media Sosial
Sekarang ini (2026) bukan cuma lingkungan di dunia nyata saja yang memengaruhi kita, media sosial juga memiliki pengaruh yang sangat besar. Kalau kalian nggak percaya, sebagai contoh buka TikTok kalian, pilih video acak, buka kolom komentarnya, lihat bagaimana cara mereka berkomentar.
Sadar nggak sih, kalau ternyata konten-konten yang kita konsumsi setiap hari secara tanpa kita sadari dapat memengaruhi cara kita berpikir, berbicara, bahkan standar hidup kita sendiri. Sebagai contoh, dahulu waktu Bang Rey masih kecil, yang namanya ngomong ucapan kotor (“misuh” kalau dalam bahasa Jawa) itu kalau bukan anak yang benar-benar bandel nggak akan berani. Bandingkan dengan fenomena sekarang, jauh banget, kayak ngomong kotor itu sudah normal gitu.
Bagaimana Jati Diri Terbentuk Melalui Kebiasaan?
1. Perilaku yang Berulang
Menurut psikologi, kebiasaan adalah identitas yang terbentuk dari perilaku yang terus-menerus diulang. Misalnya, awalnya kita tidak terbiasa untuk bicara kotor, namun karena kita sering menyelipkan kata kotor dalam obrolan sehari-hari dengan teman, jadinya ya kita akan menganggap bahwa ucapan kata kotor itu adalah candaan, bukan kesalahan, Sesuatu yang sejatinya adalah salah malah jadinya dianggap suatu hal yang normal gitu.
2. Otak Menyukai Pengulangan
Otak manusia senang dengan sesuatu yang berulang karena lebih hemat energi. “Ini sudah Bang Rey bahas pada artikel Mengapa Kita Sulit Berubah Meski Tahu Apa yang Terbaik?.” Intinya, kebiasaan itu bisa bikin otak kecanduan, guys.
Makanya jangan heran kalau awalnya cuma iseng ngomong kotor sekali dua kali, lama-lama malah jadi refleks. Intinya inti, apa yang sering kita ulang hari ini, besar kemungkinan akan menjadi bagian dari jati diri kita di kemudian hari.
Bagaimana Cara Membentuk Jati Diri yang Lebih Baik?
1. Mulailah dari Kebiasaan Kecil
Kalau ingin memiliki jati diri yang lebih baik, jangan langsung mengubah semuanya sekaligus. Mulailah dari kebiasaan yang sederhana dulu, seperti bangun subuh, tidak berkata kasar lebih dari 3 kali dalam sehari, membaca buku minimal 1 halaman setiap magrib, salat tepat waktu, ya sebisa mungkinlah.
2. Pilih Lingkungan yang Positif
Percaya atau nggak, orang-orang yang paling sering bersama kita sedikit demi sedikit akan memengaruhi cara berpikir dan cara kita bersikap, jadi usahakan pilih lingkungan pertemanan yang tidak berbuat aneh-aneh.
Bang Rey bukan berarti menyuruh kalian memutus pertemanan. Tapi kalau lingkungan itu terus menarik kita ke arah yang buruk, mungkin sudah saatnya mengurangi intensitasnya. Kadang yang perlu diubah bukan niat kita, melainkan lingkungan tempat kita menghabiskan waktu.
3. Bijak dalam Menggunakan Media Sosial
Sekarang media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Masalahnya, apa yang kita lihat setiap hari bisa memengaruhi cara berpikir tanpa kita sadari. Kalau isinya penuh ujaran kebencian, gosip, atau konten negatif, lama-lama kita akan menganggap semua itu sebagai sesuatu yang biasa.
Bukan berarti kalian harus berhenti bermain media sosial, tetapi cobalah memilih konten yang memberikan manfaat. Ikuti akun yang menambah ilmu, motivasi, atau wawasan baru agar apa yang masuk ke pikiran juga memberikan pengaruh yang positif terhadap kepribadian kita.
4. Berani Mengevaluasi Diri Sendiri
Menurut Bang Rey, orang yang mau berkembang bukanlah orang yang merasa selalu benar, melainkan orang yang mau mengakui kalau dirinya masih punya banyak kekurangan. Memang nggak enak dikritik, apalagi kalau yang kritik rekam jejaknya belum tentu lebih baik dari kita, tapi ya begitulah hidup.
Sesekali cobalah bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku hari ini lebih baik daripada diriku yang kemarin?” Kalau jawabannya belum, berarti masih ada kebiasaan yang harus diperbaiki. Jangan malu mengubah diri, karena yang memalukan justru tahu salah tetapi terus mengulanginya.
5. Konsisten Meskipun Perubahannya Lambat
Nah, ini yang terpenting, “Konsistensi”. Paksa diri kita untuk berubah, paksa diri kita untuk tidak mengulangi perilaku yang buruk. Apakah Bang Rey sudah bisa melakukan semua ini? Belum! Bang Rey masih dalam tahap untuk belajar.
Jadi, marilah kita belajar bersama-sama untuk membentuk jati diri kita agar menjadi jauh lebih baik.
Saya, Bang Rey Ganteng, mewakili segenap keluarga besar 9 Naga, mohon izin undur diri. “Mau diajak beli bakso dulu sama Pak De Kim Jong Un.”
Disclaimer: Artikel ini adalah catatan pribadi Rey berdasarkan bacaan umum mengenai psikologi dan pengembangan diri. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti saran dari psikolog atau tenaga profesional.


