Apakah Validasi Itu Penting? Menjadi Kebutuhan atau Masalah?
Apakah Validasi Itu Penting? Menjadi Kebutuhan atau Masalah?
Hari ini Bang Rey Sang Penguasa Laut Hitam sedang memikirkan tentang Apakah Validasi Itu Penting? Karena belakangan ini aku melihat fenomena di mana anak-anak muda rela melakukan apa saja demi mendapatkan pengakuan, entah dari media sosial maupun ruang lingkup sosial kemasyarakatan. Ada yang mengejar pujian, ada yang mengejar perhatian, bahkan ada juga yang mengejar sesuatu yang dia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia kejar.
Sekarang, apa sih yang dimaksud dengan validasi itu? Validasi adalah suatu bentuk pengakuan atau penerimaan terhadap pikiran, perasaan, tindakan, maupun keberadaan seseorang, baik yang berasal dari pengakuan orang lain maupun diri sendiri. Pada artikel ini aku tidak akan banyak bercanda, Guys, karena aku sedang dalam kondisi yang biasa disebut dengan malas. Bukan!! Tapi benar-benar malas, sangat malas sekali.
Apakah Validasi Itu Penting?
Jawabannya adalah ya, tetapi tidak selalu penting. Semuanya bergantung pada situasi, tujuan, dan bagaimana seseorang memaknai pengakuan itu sendiri. Berikut ini adalah penjelasannya. Simak, Guys, Bang Rey sudah capek nulis, jangan sampai tidak dibaca.
1. Kapan Validasi Itu Penting?
Validasi itu penting untuk seseorang yang memang benar-benar membutuhkan dukungan secara emosional guna meningkatkan kepercayaan diri, menjaga kesehatan mental, dan membuat seseorang merasa dihargai sebagai manusia.
Menurutku, validasi itu penting dalam hubungan sosial yang sehat. Karena apa? Karena tidak sedikit orang yang sangat butuh untuk didengar keluh kesahnya, pendapatnya, pemikirannya, serta mendapatkan penerimaan atas posisinya tanpa dihakimi.
2. Kapan Validasi Menjadi Tidak Penting?
Validasi menjadi tidak penting ketika seseorang menjadikannya sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai dirinya sendiri. Jika setiap keputusan hanya didasarkan pada pujian, perhatian, atau pengakuan orang lain, maka kebahagiaan akan selalu bergantung pada sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.
Menurutku, ada saatnya di mana kita harus tetap melakukan hal yang benar meskipun tidak mendapat tepuk tangan dari siapa pun. Selain itu, kebergantungan terhadap validasi dari orang lain itu capek.
Baca Juga : Mengapa Kita Sulit Berubah Meski Tahu Apa yang Terbaik?
Dampak Validasi terhadap Psikis Kita
Berikut ini adalah rangkuman dari beberapa artikel psikologi yang telah Bang Rey pelajari. Nomor 1 dan 2 adalah dampak positifnya, sedangkan nomor 3 dan 4 adalah dampak negatifnya.
1. Validasi Meningkatkan Rasa Percaya Diri
Validasi yang diberikan secara tulus dapat membuat seseorang merasa lebih yakin terhadap kemampuan yang dimilikinya. Kemampuan tersebut dapat berfungsi sebagai dorongan agar seseorang terus berkembang tanpa perlu merasa rendah diri.
Dampak positifnya, kepercayaan diri orang tersebut akan meningkat, yang akhirnya akan membuat seseorang lebih berani mencoba hal baru dan siap menghadapi segala kemungkinan terburuk jika seandainya dia gagal.
2. Validasi Membantu Menjaga Kesehatan Mental
Seseorang yang merasa dirinya didengar dan dipahami cenderung lebih mudah mengelola emosinya. Hal ini dapat mengurangi rasa kesepian, stres, dan tekanan batin yang dialaminya.
Mendapatkan validasi dari orang lain juga dapat membuat seseorang merasa bahwa perasaannya bukanlah sesuatu yang salah. Kondisi tersebut dapat membantu menciptakan ketenangan batin dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
3. Ketergantungan Validasi Memicu Kecemasan
Ketergantungan terhadap validasi membuat seseorang selalu menunggu penilaian dari orang lain. Akibatnya, ia mudah cemas (ketar-ketir) ketika tidak mendapatkan perhatian atau pujian.
Kondisi ini dapat memicu overthinking terhadap setiap tindakan yang akan dilakukannya. Lama-kelamaan dia akan sulit percaya diri dengan dirinya sendiri, dan ini adalah sebuah tindakan yang dinamakan kebodohan.
4. Validasi Berlebihan Membuat Kehilangan Jati Diri
Keinginan untuk selalu diterima sering membuat seseorang mengubah sikap dan pendapatnya. Ia lebih memilih mengikuti harapan orang lain daripada menjadi dirinya sendiri. Nah, ini nih yang aku sering lihat, melakukan sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain, padahal dirinya sendiri tidak nyaman melakukannya.
Jika perilaku ini terus-menerus dilakukan, maka seseorang akan kesulitan mengenali identitasnya sendiri. Bahkan, cara dia mengambil keputusan pun akan lebih banyak dipengaruhi oleh penilaian orang lain. Yang paling bahaya, ia tidak dapat lagi mengontrol dirinya sendiri, ibarat kata hanya menjadi boneka yang dimainkan dengan remot kontrol omongan tetangga.
Baca Juga: Bagaimana Jati Diri Terbentuk oleh Lingkungan dan Kebiasaan?
Cara Mencari Validasi agar Tidak Berlebihan
Nah, ini dia, Bang Rey kasih tutorial tentang bagaimana cara mencari validasi dengan baik dan benar versi Bang Rey. Simak dan pelajari.
1. Menghargai Diri Sendiri
Belajarlah menghargai setiap usaha yang telah kamu lakukan meskipun hasilnya belum sempurna. Mengakui kelebihan dan menerima kekurangan merupakan bentuk validasi diri sendiri yang sehat. Dengan begitu, dipuji tidak bangga, dihina tidak goyah. Bang Rey biasa menyebutnya dengan istilah, “Ini adalah seni, yaitu bodo amat.”
2. Pilih Lingkungan yang Sehat
Bergaullah dengan orang-orang yang mampu memberimu dukungan secara jujur yang sifatnya membangun. Intinya, dia memuji bukan karena ada sesuatu yang ingin dia dapatkan. Begitu pula ketika dia mengkritik, dia tidak berniat untuk menjatuhkan.
Fun fact, Guys, dari puluhan orang yang Bang Rey kenal, dan dari ribuan orang yang kenal Bang Rey, Bang Rey hanya punya dua sahabat sejati secara lahir dan batin. Artinya apa? Mencari tongkrongan yang sehat memang susah, dan aku mengakui itu.
3. Gunakan Media Sosial dengan Bijak
Sebagai pemuda terbaik abad ini, Bang Rey cuma mau bilang, “Media sosial hanyalah sarana berbagi, bukan penentu harga diri.” Intinya, batasi penggunaan media sosial. Lebih baik perbanyak interaksi sosial dalam dunia nyata. Kenapa? Biar kamu tahu bahwa orang-orang dengan pola pikir yang bijaksana di luar sana masih banyak.
Masih banyak orang yang mengkritikmu bukan untuk menjatuhkanmu. Masih banyak juga orang yang memujimu bukan untuk mendapatkan sesuatu darimu. Yang terpenting, kamu tidak terjebak dalam ilusi dunia digital.
4. Terima Kritik Tanpa Bergantung pada Pujian
Ini juga penting. Kalau kamu mendapatkan kritik dari orang lain, baik disampaikan secara sopan maupun tidak, usahakan jangan marah. Logikanya begini, namanya kritik ya pasti komentar negatif. Kalau komentarnya positif, itu namanya pujian. Jadi, anggap saja makian itu sebagai kartu As untuk mengetahui apa yang perlu kita perbaiki dalam diri kita, dan pujian anggap sebagai daftar tentang apa saja yang sudah berhasil kita lakukan.
5. Fokus pada Proses, Bukan Pengakuan
Biar Bang Rey kasih tahu kalian tentang satu rahasia. Lakukan yang terbaik untuk setiap hal yang kalian lakukan. Itu memang tidak akan menjamin hasilnya bagus, tetapi yang pasti kalian sudah melakukan yang terbaik. Takaran terbaik setiap orang itu berbeda-beda, jadi jangan terlalu dipikirkan.
Dengan begitu, secara otomatis kamu akan fokus terhadap prosesnya, bukan validasinya. Anggap saja kita sedang belajar. Namanya belajar ya pasti pernah salah. Udah gitu ae, Guys.
Saya, Bang Rey Ganteng, mewakili segenap keluarga besar Kasta Kaum Elit, mohon pamit undur diri. Matur tengkyu. Sudah ditunggu Donal Trump lihat final Argentina vs. Spanyol.
Disclaimer: Artikel ini adalah catatan untuk Bang Rey secara pribadi, bukan saran medis atau konseling psikologi profesional. Jika kamu membutuhkan bantuan terkait kesehatan mental, silakan hubungi psikolog atau ahli di bidangnya.



